Home
news
Revolusi Industri 4.0 Dan Kiprah Generasi Milenial Purwakarta

Revolusi Industri 4.0 Dan Kiprah Generasi Milenial Purwakarta


Senin, 2018-11-19 - 22:18:20 WIB

STT-Muttaqien. Berkembangnya pemerataan penggunaan internet yang telah menyebar disetiap kalangan telah memperlihatkan optimisme sumber daya manusia Indonesia menghadapi era revolusi industri 4.0 ini.

Demikian disampaikan Rd. Dadan K Ramdan, MT dalam Rapat Koordinasi Kepemudaan Kabupaten Purwakarta Tahun 2018, di Aula SKB  di Jalan Purnawarman, Selasa 31 Juli 2018.

Menurut Wakil Ketua I Bidang Akademik dan Umum STT Muttaqien Purwakarta itu, revolusi industri yang beriringan dengan tenggelamnya beberapa fitur teknologi dan munculnya rekayasa teknologi terbaru, kemudian mempengaruhi sektor ekonomi dan industri.

"Istilah revolusi Industri 4.0 ini, sebenar nya pertama kali muncul pada tahun 2011, diperkenalkan oleh Kanselir Jerman Angela Markel, pada pertemuan world 
economic forum, bahwa revolusi industri merupakan sistem yang 
mengintegrasikan dunia on line dengan produksi industri," ujar Project Engineer di PT. Sangkan Waluyaning Urip dan PT. Langgeng Pertiwi Development ini.

Mantan Ketua KPU Purwakarta dua periode itu juga membeberkan sejarah panjang perkembangan dan pertumbuhan industri yang berada dalam sejumlah tahapan.

Dimulai pada akhir abad ke-18, revolusi industri yang pertama terjadi pada akhir abad ke- 18. Ditandai dengan ditemukannya alat tenun mekanis pertama pada 1784. Kala itu, industri diperkenalkan dengan fasilitas produksi mekanis menggunakan tenaga air dan uap. Peralatan kerja yang awalnya bergantung pada tenaga manusia dan hewan akhirnya digantikan dengan mesin tersebut. Banyak orang menganggur tapi produksi diyakini berlipat ganda.

"Kemudian awal abad ke-20 revolusi industri 2.0 terjadi di awal abad ke-20. Kala itu ada pengenalan produksi massal berdasarkan pembagian kerja. Lini produksi pertama melibatkan rumah potong hewan di Cincinnati, Amerika Serikat, pada 1870" tuturnya.

Dilanjutkan pada awal 1970. Masa tersebut ditengarai sebagai perdana kemunculan revolusi industri 3.0. Dimulai dengan penggunaan elektronik dan teknologi informasi guna otomatisasi produksi. Debut revolusi industri generasi ketiga ditandai dengan kemunculan pengontrol logika terprogram pertama (PLC), yakni modem 084-969. Sistem otomatisasi berbasis computer, ini membuat mesin industri tidak lagi dikendalikan manusia tetapi oleh mekatronika dan robotik. Dampaknya memang biaya produksi menjadi lebih murah.

"Awal 2018 Nah, sekaranglah zaman revolusi industri 4.0 yang ditandai dengan sistem cyber-physical. Saat ini industri mulai menyentuh dunia virtual, berbentuk konektivitas manusia, mesin dan data, semua sudah ada di mana-mana. Istilah ini dikenal dengan nama internet of things (IoT).Perkembangan di atas telah membentuk gelombang cyber physical system, internet 
of thing and network yang memaksa sektor ekonomi dan industry masuk secara massive ke dalam gelombang revolusi ekonomi dan industri ke 4," beber Dakoram, begitu ia bisa disapa.

Efek Revolusi Industri 4.0

Efek revolusi ini meningkatnya efisiensi produksi karena menggunakan teknologi 
digital dan otomatisasi serta perubahan komposisi lapangan kerja, kebutuhan tenaga kerja baru yang tumbuh pesat sekaligus akan hadir kebutuhan tenaga kerja 
lama yang tergantikan oleh robot dan mesin.

Menurut Dakoram, perkembangan rekayasa ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini, diramalkan berkembang pesat melalui kelahiran mata uang digital, kecerdasan buatan hingga layanan penyimpanan data.

"Hal ini menjadi terobosan yang menjanjikan dan tidak bisa dipungkiri lagi akan terus mengalami inovasi yang lebih maju dibandingkan dengan era sebelumnya," ujarnya.


Share Berita


Komentari Berita